Sebelum kita menjawab pertanyaan diatas,maka perlu kita pahami dahulu apa yang disebut makmur (prosper) itu.
Menurut kamus encyclopedia bahwa kemakmuran adalah suatu keadaan atau status berkenaan dengan bertumbuh dengan kuat atau katakanlah kuat,sukses (berhasil) dan mempunyai masa depan yang baik. Kadang-kadang kemakmuran juga disamakan dengan kekayaan (wealth), dan menyangkut juga beberapa faktor seperti kebahagiaan dan kesehatan. Namun kemakmuran tidak berarti semata-mata kuat dalam hal ekonomi saja walaupun tentunya ekonomi juga dibutuhkan. Kekuatan ekonomi bahkan sering juga menyebabkan interaksi yang negatip terhadap kebahagiaan, kesehatan dan kepuasan batin. Contohnya saja di negara-negara yang ekonominya sangat maju jam kerjanya semakin panjang yang membuat waktu berkumpul bersama keluarga semakin singkat dan bahkan kurang sama sekali. Disamping itu juga semakin tinggi pendapatan seseorang semakin tinggi juga kebutuhannya sehingga kepuasan spiritual dan kebahagiaan keluarga yang stabil tidak akan pernah tercapai.
Definisi lain juga mengatakan bahwa kemakmuran berarti kelimpahan sumber daya atau asset yang berharga atau bernilai namun mampu mengendalikan asset yang dipunyai tersebut.
Adam Smith dalam definisinya mengenai kemakmuran suatu negara adalah berkenaan dengan hasil produksi tahunan dari tanah serta buruh atau pekerja suatu masyarakat. Secara sederhana yang dimaksud dengan produksi ini adalah yang dapat memuaskan kebutuhan manusia atau rakyat banyak produk utilitas seperti air, komunikasi serta infrastruktur. Masih banyak lagi definisi lainnya berkenaan dengan kemakmuran dikaitkan dengan faktor ekonomi,namun yang pasti ada kesimbangan antara kebutuhan ekonomi,kesehatan dan spiritual.
Di negara manapun di dunia status sosial di masyarakat tentu ada jenjang atau klassnya,dan secara umum dapat dibagi atas tiga klass yaitu : kalangan (klass) atas atau upper class, kalangan menengah (middle class) dan kalangan bawah (lower class).
Kalangan atas (upper class) ,dan yang termasuk dalam kalangan ini adalah mereka yang mempunyai pendidikan tinggi,masyarakat yang cenderung untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kekayaannya melalui jaringan sosial yang sudah terbentuk. Kalangan ini bahkan akan terus mempertahankan status quo mereka dengan mendorong anak-anak mereka masuk kedalam pendidikan yang bergengsi dan juga mempertahankan bahkan meningkatkan jaringan sosial mereka melalui forum komunikasi serta prosedur yang yang sudah terbentuk juga.
Kalangan menengah (middle class), dan yang termasuk kalangan ini adalah mereka yang menggantungkan hidupnya atas penerimaan gaji. Kalangan ini lebih menekankan hubungan kekeluargaan dan cita-citanya pertama-tama adalah mempunyai rumah dan juga menekankan pentingnya pendidikan serta karir. Kalangan ini mempunyai penghasilan yang cukup,namun pengeluarannya juga tidak sedikit atau balance antara penerimaan dengan pengeluaran boleh dikatakan hampir seimbang,walaupun masih ada saving tapi tidak begitu besar termasuk juga penghasilan dari pensiun.
Kalangan bawah (lower class), dan yang termasuk dalam kalangan ini adalah mereka yang berpendapatan rendah dan cenderung penghasilan mereka sulit ditingkatkan dan asset yang mereka milikipun sangat terbatas.
Dari pandangan singkat akan faktor-faktor yang menentukan untuk dapat dikategorikan sebagai negara makmur marilah kita urut satu persatu elemen mana saja yang dapat dipenuhi oleh negara kita.
Pertama dari segi ekonomi, mungkin yang perlu kita soroti justru kalangan yang berpendapatan rendah (low class). Walaupun Indonesia merupakan negara ekonomi terbesar di Asia tenggara namun dari segi pendapatan per kapita masih ketinggalan jauh dari negara lain se Asia tenggara. Sebagai contoh GDP negara kita hanya dua kali lebih besar dari Malaysia,sementara jumlah rakyat kita sepuluh kali lipat dari Malaysia,artinya pendapatan per kapita rakyat kita jauh lebih rendah. Jadi dapat kita bayangkan seberapa banyak rakyat yang berpendapatan rendah di negara Indonesia. Kebutuhan bahan pokok dan utilitas baik di Indonesia maupun Malaysia sama saja, sama-sama perlu beras dan air,sama-sama perlu fasilitas komunikasi dan transportasi. Tapi sayangnya kenapa dengan bahan yang sama misalnya bahan pokok yang berkualitas beras contohnya,di Indonesia lebih mahal dan masih banyak bahan makanan lainnya yang bahkan harganya lebih mahal di indonesia. Jadi tidak heran kalau umumnya para pekerja di Indonesia tidak pernah puas dengan hasil yang diperoleh dan untuk itu cenderung mencari solusi lain yang kadang-kadang berdampak negatip seperti misalnya korupsi demi untuk mencukupkan kebutuhan pokok yang memang betul-betul sangat diperlukan.
Fasilitas penunjang kemajuan ekonomi seperti sumber daya alam lebih dari cukup,semua jenis sumber daya alam ada di Indonesia,masalahnya hanya kesalahan pada pengelolaan yang di exploitasi sampai keliwat batas seperti misalnya pengelolaan hutan sehingga dampaknya sekarang terasa pada ekosistem yang terganggu dimana hampir tidak pernah lagi secara teratur jatuhnya musim hujan dan musim kemarau di Indonesia. Demikian juga dengan minyak bumi yang dahulu sebagai negara pengekspor sekarang menjadi negara pengimpor minyak. Belakangan ini batubara yang walaupun hasilnya luar biasa besar,namun tidak lama lagi mungkn akan habis dan tinggal tunggu waktu saja dampaknya terhadap daerah sekitar Samarainda khususnya dan pulau Kalimantan umumnya. Salah seorang ahli ekonomi terkenal Amerika seperti Richard Auty menggambarkan bahwa negara yang kaya akan sumber daya alam justru mempunyai pertumbuhan yang rendah dibanding dengan negara yang tidak kaya dengan sumber daya alamnya sehingga disebut sebagai Resource curse Country ,karena ternyata akibat kekayaan yang dimiliki inilah menimbulkan berbagai dampak yang cukup meluas yaitu :
- Konflik antar departemen atau kementerian yang tertarik untuk menguasai harta warisan alam yang sangat kaya ini.
- Kurangnya penerimaan dan pengawasan terhadap pajak karena sebagian besar sudah ditutup oleh hasil sumber daya alam ini.
- Dutch disease yaitu istilah untuk negara kaya dengan sumber minyak sehingga kurang memperhatikan hasil pertanian dan bahkan pemborosan yang dilakukan oleh instansi pemerintah akibat banyaknya penghasilan dan nilai tukar uang yang cukup kuat.
- Penghasilan yang tidak stabil ( revenue volatility ) dimana harga minyak sering tidak stabil,sekali waktu USD 15 per barrel dan sekali waktu mencapai lebih dari USD 100 per barrel. Keadaan ini menyebabkan penghasilan negara tidak tetap sehingga sulit menetapkan anggaran yang mantap.
- Pinjaman yang berlebihan ( excessive borrowing ) dimana karena merasa bahwa penghasilan besar banyak berhutang terhadap negara lain bahkan sampai dikontrakkan seperti misalnya kontrak pembelian minyak dengan Jepang dan negara lain sampai puluhan tahun sehingga mendapatkan kepercayaan pinjaman dan bahkan sampai berlebihan.
- Korupsi termasuk sogok atau suap diakibatkan kurangnya kemauan pemerintah menetapkan pajak sektor lainnya karena sudah merasa cukup dengan hasil yang diperoleh dan juga akibat konflik yang ada antar instansi pemerintah untuk penguasaan sumber minyak yang kaya ini. Dampak lainnya adalah mereka yang sudah mempunyai otoritas di pemerintahan berusaha terus untuk bertahan karena merasakan nikmatnya hasil yang mudah dari kekayaan negara ini.Itulah sebabnya pada masa itu sangat populer lagu kemesraan karena begitu lamanya para pejabat pemerintah berkuasa sehingga enggan melepaskan jabatannya kepada orang lain yang mungkin lebih pantas dan berkwalitas dan muncullah para kroni status quo. Bagi para pedagang atau kontraktor yang ingin mendapatkan proyek atau apapun pekerjaan yang berhubungan dengan pemerintahan harus mampu untuk melakukan sogok atau suap ( bribery ) ,dalam bahasa Jerman disebut schmiergeld (“greasing money”) dan dalam bahasa Scandinavia disebut “mutbrot” ( “butter-bread”) , untuk mendapatkan order pekerjaan dan bagi siapa yang memberikan tawaran tertinggi besar kemungkinan akan menjadi pemenang.
- Pendidikan,umumnya negara yang kaya minyak kurang perhatiannya terhadap faktor pendidikan bagi rakyatnya .
Bahan pokok pangan seperti beras dan yang lainnya juga kalau dikelola dengan benar lebih dari cukup sehingga tidak perlu selalu harus mengimpor seperti yang sering terdengar pemerintah harus mengimpor beras dari negara-negara lain.
Utilitas seperti listrik,banyak daerah yang tidak kebagian listrik,bahkan di ibukota harus ada pembatasaan penggunaan listrik sehingga membatasi kegiatan para pengguna yang mengandalkan usahanya dengan mengandalkan listrik. Bandingkan dengan di Malaysia bahkan di kota-kota kecil sekalipun jatah penggunaan listrik terserah pada pengguna dan hanya diatur dengan pemasangan fuse atau sekering saja. Demikian juga dengan air minum,jangankan di kota kecil,di ibukota sekalipun di Indonesia sebagian besar rakyat menggunakan air tanah dengan memasang jet pump yang bahkan sampai kedalaman yang cukup memprihatinkan sampai 60 m yang tentunya dapat kita bayangkan apa yang akan terjadi nantinya kalau semakin lama air tanah ini habis,yang pasti bencana besar yang bakal kita tuai.
Infrastruktur juga sebagai fasilitas penunjang kemajuan ekonomi boleh dikatakan sangat buruk bahkan di kota-kota besar sekalipun. Kota-kota besar yang menjadi tumpuan terbesar dari pusat-pusat perdagangan tidak dilengkapi dengan infrastuktur yang memadai dilihat dari segi safety ( keselamatan ),effissiensi,kecukupannya (panjang dan jumlah ruas) yaitu perbandingan antara jumlah kendaraan dan panjang jalan,jenis moda transportasi,keamanannya (security) dan banyak lagi faktor-faktor lainnya. Kota-kota besar sebagai hub-hub dari berbagai akses urat nadi perdagangan seharusnya dilengkapi dengan infrastruktur yang cukup dan kuat dan bukan hanya memadai untuk menampung aliran arus komoditi dan manusia sehingga semuanya berjalan lancar dan tidak tersendat. Berdasarkan informasi yang kami dapat Jepang yang sarana infrastrukturnya sudah sedemikian canggih kerugian yang diakibatkan oleh kemacetan mencapai USD 100 miliard per tahunnya. Saingan Indonesia untuk negara termacet di dunia mungkin hanya beberapa seperti Brasil dan China . Daripada membangun mal –mal raksasa yang tidak bermanfaat untuk rakyat banyak alangkah lebih baiknya dana akibat kemacetan ini dialihkan untuk membangun sarana infrastruktur.
Berikut yang kedua adalah di bidang kesehatan. Berbicara untuk masalah ini memang kita masih jauh ketinggalan karena data dari WHO Indonesia di peringakat 154 hanya satu angka dibawah India,dan diantara negara-negara Asean hanya Laos saja yang dibawah kita sedangkan yang lainnya diatas kita terutama Malaysia di peringkat 80. Peringkat ini berdasarkan jumlah dana yang dikeluarkan untuk kesehatan dan prosentasenya dari GDP dan Indonesia hanya mengeluarkan 2,5% dari GDP untuk kesehatan. Dalam kehidupan sehari-haripun dapat kita rasakan buruknya pelayanan kesehatan dan kurangnya kepedulian dari para petugas medis di rumah-rumah sakit. Bayangkan saja kalau kita masuk rumah sakit dalam keadaan emergency sebelum ditangani dengan intensif harus menyelesaikan administrasi lebih dahulu dan kalau tidak tinggal berdoa saja. Asuransi kesehatan yang ada saja yang diadakan untuk para pegawai baik swasta maupun pemerintah tidak dapat mengcover sepenuhnya,seandainyapun di cover obatnyapun dari jenis yang paling murah demikian juga kalau di opname di rumah sakit. Jika mau yang baik harganyapun luar biasa,tidak heran jika banyak orang Indonesia yang berpenghasilan cukup lari ke negara tetangga seperti Singapura atau Malaysia yang disamping diagnosanyapun meyakinkan ,pengobatan serta biaya rumah sakitnyapun masih lebih murah. Ini baru di kota besar seperti di ibukota dan bagaimana lagi di kota-kota kecil apalagi di daerah terpencil tidak dapat kita bayangkan seperti apa keadaannya.
Yang ketiga adalah bidang spiritual menyangkut juga keselamatan,keamanan dan kenyamanan. Kalau dalam bidang ini kita semua tahu bahwa dari segi keselamatan Indonesia termasuk negara yang termasuk rendah kepeduliannya dalam menerapkan standar faktor keselamatan dimana kecelakaan baik di darat ,laut dan udara cukup tinggi sehingga maskapai penerbangan Garudapun sempat lama di ban tidak boleh terbang ke Eropah. Belum lagi baru-baru ini kecelakaan kereta api yang menewaskan banyak orang.Jadi sekali lagi kita di cap sebagai negara yang sangat rendah dalam menerapkan standar keselamatan. Seharusnya berbagai instansi terkait yang bertanggung jawab dalam penerapan standar keselamatan mempunyai juga metode yang tepat dalam pengoperasian alat transportasi dan bukan hanya checklist alat keselamatan saja,tapi juga para operator terutama para pilot,pengemudi dan navigator dibekali metode tersebut misalnya saja “risk assessment method” dengan score nya sekalian sebelum semua peralatan digunakan. Bagi mereka yang bertugas sebagai investigator harus mempunyai data lengkap terdahulu termasuk tindakan apa yang telah dilakukan (rectifying measure) serta metode yang digunakan untuk mengetahui sebab terjadinya kecelakaan (root of cause of accident) dan ini sebaiknya dipublikasikan sehingga terbuka atau transparant terhadap kritik dari masyarakat.Berikut dari segi keamanan dimana kita semua tahu bahwa dampak dari kurangnya penerapan standar keselamatan adalah ancaman terhadap keamanan. Keamanan dalam arti luas yaitu kurangnya rasa independensi serta terancamnya rasa privasi dari setiap orang. Bayangkan saja begitu kita keluar rumah dan masuk ke jalanan sudah dihadang dengan berbagai intruder atau pengganggu seperti pengemis,pemalak dan tukang parkir yang identik juga dengan pemalak karena mungkin hanya di Indonesia saja tukang parkir yang bertugas 24 jam.Ide non stop performance 24 jam ini mulanya memang mungkin dari pelayanan fast food atau famili mart seperti 7 eleven,namun ternyata idee ini sudah menginspirasi sektor lainnya sehingga para pemalak,juru parkir dan bahkan pengemis bekerja 24 jam yang sejujurnya sudah meresahkan dan sangat mengganggu kemerdekaan orang lain karena kemanapun kita akan dikejar walau sebenarnya sudah tidak perlu dijaga khususnya perparkiran. Bandingkan dengan negara lain misalnya Malaysia,pungutan parkir hanya sampai jam 6 sore kecuali di mall dan selebihnya gratis,dan pada jam kerja hanya 60 sen perjam atau sekitar Rp 1750 tanpa ada juru parkir dan cukup dengan membeli tiket parkir di warung atau toko yang menyediakan tiket parkir atau kalau tidak dengan memasukkan coin saja,yah begitu simple dan tidak perlu mengganggu kemerdekaan orang lain. Yang lebih menyedihkan lagi bahkan di Jakarta tarif parkir akan dinaikkan menjadi Rp.10000 perjam tanpa diimbangi dengan infrastruktur jalanan yang masih buruk . Penulis pernah merenung mungkin karena dalam lagu kebangsaan kita Indonesia Raya selalu dinyanyikan merdeka merdeka yang mungkin artinya kita ini belum mengalami kemerdekaan sepenuhnya. Sewaktu kami tinggal di Jepang ada sekumpulan orang Jepang pecinta Indonesia yang disebut “Yokudantei “ begitu berjumpa dengan kami meneriakkan “ merdeka”,sampai saya berpikir apa karena memang kita ini memang belum merdeka sepenuhnya. Golongan pengemis dan pemalak inipun ternyata ada tingkatnya bukan hanya yang kita jumpai di jalanan,tapi kalau kita jajaki kemanapun kita melangkah terutama ke kantor-kantor yang mengeluarkan perizinan,pasti akan lebih besar lagi dana yang harus dikeluarkan. Sebagai contoh jika perlu suatu data atau informasi apa saja pasti harus mengeluarkan dana,walaupun tidak semua kantor atau instansi mengenakan biaya tersebut.Teman saya seorang India selama kapalnya beroperasi di Indonesia waktu itu ia sebagai Nakhoda kapal tanker Singapura pernah mengatakan kemanapun ia melangkah selalu berhadapan dengan para “burglar” sampai sampai dia katakan paling malas kalau kapalnya harus beroperasi di Indonesia. Belum lagi bidang hukum yang bagi orang awam tidak bisa membedakan mana yang menegakkan hukum ( enforce the law )dan mana yang mempermainkan hukum (wave the law),walaupun tidak sedikit juga instansi yang bersih dari noda hukum. Untuk bidang ini mungkin semua orang di bumi Indonesia tahu seperti apa penanganan hukum di Indonesia yang boleh dikatakan hampir tidak ada lagi yang berpihak terhadap rakyat kecil sehingga ada lagu yang liriknya diplesetkan bunyinya maju tak gentar membela yang bayar dan lagu lainnya yang pernah diciptakan oleh Ebiet juga karena tidak tahu mau mengadu kepada siapa tanyakan saja pada rumput yang bergoyang . Bidang lainnya juga yang belakangan ini membuat kita tidak nyaman yaitu konflik antar umat beragama yang sungguh rawan terhadap integritas kesatuan bangsa. Sewaktu penulis masih di sekolah dasar sampai sekolah menengah pertama atau sekitar tahun 1950-1970 merasakan bagaimana artinya kemerdekaan itu seperti yang sekarang mungkin dirasakan oleh rakyat di negara tetangga,dimana saat itu toleransi antar umat beragama sangat dirasakan nikmatnya dan juga prosentase para pemalak serta koruptor jumlahnya sangat trivial ( kecil sekali dan dianggap tidak membahayakan ). Tidak seperti sekarang ini justru semakin orang itu berpendidikan apapun itu bidangnya maka prosentase ancaman terhadap baik kemerdekaan individu,golongan maupun negara sudah mencapai tingkat yang boleh dikatakan risiko sangat tinggi (very high risk ) yang sewaktu-waktu bisa meledak ( explosif) kalau tidak segera ditindak secara tegas. Di Malaysia yang menerapkan hukum syariah ,para pembakar rumah ibadah ( gereja ) langsung di hukum,sedangkan di Indonesia mungkin sudah berpuluh kali terjadi namun para anarkhis tersebut tetap bebas dari hukuman. Masih banyak lagi kelemahan –kelemahan lainnya di negara kita kalau berbicara tentang masalah keamanan, keselamatan dan kenyamanan ,sebab justru karena merk (brand) inilah yang menyebabkan iklim investasi asing di negara kita kurang diminati ,apalagi untuk bidang parawisata. Sebenarnya kelemahan dari faktor 3 K inilah yang menyebabkan negara kita lambat maju dan boleh dikatakan menjadi akar penyebab bahkan penghambat ( root cause ) dari lambatnya pencapaian kemakmuran negara Indonesia. Seperti kita ketahui bersama diantara negara se Asean hanya Indonesia yang belum mempunyai brand (merk yang baik di mata dunia. Dapatkah Indonesia dikatakan sebagai negara batik atau komodo tentu tidak karena itu bersifat kedaerahan. Menurut salah satu artikel yang saya baca di koran asing dikatakan bahwa Indonesia sebagai “ The country branding puzzle”,artinya memang Indonesia belum punya brand yang kalau disebut saja orang semua di dunia tahu,misalnya Swiss dengan jamnya , Perancis dengan anggurnya, Italy dengan fashionnya. Untuk Asean sendiri Singapore: state of the art technology, Thailand: exotic beaches and cuisine, Malaysia: Truly Asia .
Saya berharap agar dari tulisan ini setidaknya kita dapat mendiagnosa kelemahan yang ada pada negara kita dan melalui kelemahan dan kekurangan ini kita akan dapat memperbaiki dan membangun negara kita menuju kemakmuran bersama seperti apa yang diharapkan oleh para pendiri bangsa Indonesia menjadi negara yang makmur dan sejahtera.
Akhir kata saya mengutip kata-kata dari Abraham Lincoln : Sukses berjalan dari satu kegagalan ke kegagalan yang lain, tanpa kita kehilangan semangat.
Oktober 7, 2010
Conrad Siahaan
Ditulis oleh csiahaan 
